Jumat, 22 Agustus 2008
ketika rayya panas
Jumat pagi, aku dan istriku sepakat membawa rayya ke rumah sakit. Setelah periksa darah, istriku bilang bahwa tidak ada penyakit lain yang menyerang rayya. Aku lega..lega sekali. Alhamdulillah. Tapi rasa khawatir itu masih menyelimutiku sampai saat ini karena dokter bilang, kalau dalam empat hari ke depan panasnya tidak turun, rayya harus periksa darah lagi. Duuhhh... kasihan sekali anakku. Padahal aku tahu anakku paling nggak suka disuntik. Tapi periksa darah kan harus diambil darahnya dan itu hanya bisa dilakukan dengan suntikan.
Ya Allah ..., semoga Engkau mendengar doa kami ya Allah. Semoga Engkau sembuhkan rayya, ya Allah. Hanya Engkaulah yang kuasa memberikan penyakit dan Engkau pulalah yang kuasa menyembuhkannya tanpa rasa sakit.
Semenit yang lalu, aku telepon istriku menanyakan keadaan rayya, alhamdulillah sekarang rayya sudah baik-baik saja. Dan perasaanku ada perubahan pada diri rayya, sepertinya dia tambah cerewet dengan kosa kata yang lebih banyak dan pengucapan yang lebih jelas juga. Ternyata istriku juga berpikiran sama. Ya, semoga saja ada hikmah dari sakitnya rayya kali ini. Rayya jadi semakin pintar dan tambah lucu. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mendengar doa kami untuk kesembuhan rayya. Aminn ...
Selasa, 05 Agustus 2008
seliter bensin eceran
Itu bermula ketika aku lupa mengisi bensin motorku yang sudah reserve. Padahal pas berangkat aku sudah berniat beli bensin. Tapi namanya manusia yang sering lupa dan kilaf, aku pun tak berbelok ke pom bensin. Aku baru menyadari ketika sudah sampai di kantor.
Malamnya, aku sudah khawatir motorku akan mogok di tengah jalan karena kehbisan bensin. Dan ternyata kekhawatiranku itu terjadi. Motorku sudah mulai tersendat-sendat dan akhirnya mesinnya mati di gandaria, tepat di depan pom bensin besar. Aku menuntunnya, tapi aku harus kecewa karena ternyata pom bensin itu belum beroperasi! Aku mencoba mengingat-ingat kalau-kalau ada pom bensin di dekat-dekat motorku mogok. Dan seingatku memang tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba menghidupkan motor dan alhamdulillah masih bisa hidup. Aku pun berpikir sebentar untuk menentukan jalan yang harus aku lalui sambil berharap nanti menemukan tukang jual bensin eceran.
Aku memutuskan untuk lewat jalan besar karena kans untuk menemukan tukang bensin lebih besar daripada kalau aku lewat jalan kampung. Aku pacu motorku agak kencang dengan harapan bisa mencapai jarak tempuh maksimal dengan sisa-sisa bensin di tanki motor. Namun baru sekitar tiga sampai lima menit berjalan, akhirnya motorku mati lagi dan tidak bisa dihidupkan. Terpaksa aku mendorongnya di antara macetnya jalanan jakarta.
Dan ... eureka! Tepat 10 meter di depanku ada penjual bensin eceran! Untuk beberapa saat aku terpana. Aku sama sekali tidak mengira keberuntunganku malam itu. Bagaimana tidak, selama lima tahun aku lewat jalan itu, terus terang aku belum pernah melihat ada tukang bensin eceran yang mangkal di tempat itu! Tapi malam itu, tukang bensin itu benar-benar ada dan nyata di depanku.
Ya Allah...betapa baik hatinya diri-Mu padaku. Alhamdulillah. Akhirnya aku mengisi motorku dengan satu liter bensin dan aku pun bisa pulang dengan perasaan lega. Terima kasih yang Allah...! Kejadian itu sungguh membuka mata hatiku, bahwa segala sesuatu, sebesar atau sekecil apa pun masalahnya pasti akan terjadi jika Allah menghendaki. Subhanallah ...
piknik
Saat tiba di lokasi, rayya malah tertidur. Padahal waktu mulai berangkat dari rumah sampai di pertengahan jalan, aku masih mendengar rayya berceloteh dan menyanyi-nyanyi. Rayya memang senang sekali kalau keluar naik motor dengan aku dan ibunya.
Cukup lama juga aku dan istriku menunggu rayya bangun untuk diajak bermain-main karena kebetulan di tepi danau itu ada arena mainan anak. Aku membeli kacang rebus satu bungkus lima ribu. Kami makan berdua seperti orang pacaran hehhe...
Tak lama setelah kacang kami habis, rayya menggeliat. Matanya mengerjap silau oleh pantulan matahari sore di permukaan danau. Ketika kesadaran dunianya utuh terkumpul, rayya mulai bereaksi dengan sekitarnya.
”tuuhh.. ini danau namanya, nak...,” ujar ibunya.
”Ada ikannya...” sahut rayya senang. Lalu, kami pun beranjak ke taman bermain anak. Rayya langsung menuju ayunan. Sambil masih berjuang memulihkan kesadarannya setelah tidur tadi, rayya ”ayum-ayum” dengan ibunya. Aku pun melibatkan diri dan duduk di sebelah rayya ikut ayunan. Ibunya sibuk emfoto kami berdua dengan hapenya. Bosan dengan ayunan, rayya menunjuk prosotan. Aku segera memegangi rayya naik turun prosotan beberapa kali. Sapek juga ... hehe.
”Teman aya mau main osot ...! mau main teman aya ...,” kata rayya sambil minta gendong dan memperhatikan anak-anak yang lebih gede darinya main prosotan.
Puas mainan, rayya minta naik perahu motor.
”Aya mau naik.. ayya,” katanya.
Rayya senyum-senyum. Senang. Meski awalnya takut, lama-lama dia terbiasa juga. Malah saat itu dia berceloteh macem-macem. Ibunya sibuk motretin rayya dengan hapenya. Kami berkeliling danau kira-kira sepuluh menit. Ketika turun, rayya pingin naik lagi. Tapi karena antrian yang mau naik banyak dan kebetulan hari juga sudah sore, akhirnya kami pulang. Aku dan istriku salat ashar dulu di musala. Rayya ikut-ikutan wudu dan salat.
Kebetulan di tempat itu baru ada shooting pengajian uje, si ustad gaul itu. Banyak sekali orang yang nonton sambil mendengarkan ceramahnya.
Kami pun pulang dan rayya minta makan di tempat favoritnya selama ini: kfc. Entah kenapa rayya suka sekali makan di situ. Mungkin karena ada mainannya kali ya.. dan seperti biasa, rayya makan lahap banget, trus mainan prosotan lagi sampai jam 8 malem. Sampai rumah sudah jam 8.30 dan rayya langsung minta ”meh ..” hingga terlelap....
Senin, 28 Juli 2008
mengapa buku anak
Meski sudah berulang kali mendapat pertanyaan sejenis, tapi bisa kupastikan bahwa jawabanku pasti selalu berbeda hehehe...
Kadang aku katakan alasanku lebih suka menulis cerita anak daripada yang lain karena aku suka saja. Ya suka. Itu saja. Jawaban standar yang sebenarnya bias dan membingungkan. Mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai jawaban yang asal-asalan.
Di lain kesempatan, aku katakan kalau menulis buat anak itu lebih gampang daripada nulis cerpen remaja misalnya. Tapi sebenarnya aku justru sering merasa lebih gampang membuat cerpen bertema cinta remaja ketimbang menuliskan cerita fabel yang harus memenuhi syarat2 cerita buat anak, seperti cerita yang harus berisi pesan moral, pendidikan, dan pesan2 wajib yang seharusnya dimiliki anak2 tanpa menghilangkan fungsi cerita sebagai bacaan yang menghibur. Itu artinya aku harus jeli memilih kata/ungkapan/kalimat2 yang menarik agar cerita itu mengalir natural dan tidak menggurui. Kadang aku merasa lelah dengan kriteria yang harus ada untuk menghasilkan sebuah cerita anak yang bermutu.
Jawaban yang lain lagi pernah pula aku katakan bahwa aku nggak bisa nulis cerita lain selain cerita anak-anak. Artinya, aku memang hanya bisa nulis cerita anak. Titik. Soalnya cerita anak itu nggak perlu mikir dan hanya mengangkat hal-hal remeh temeh dan sepele. Jadi kupikir semua orang juga bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan.
Ketika aku mengingat-ingat lagi jawaban2 itu, aku menjadi berpikir dan tercenung, sebenarnya jawaban mana yang benar ...? tuh kan jadi bingung...
Tapi memang nyatanya, dari 27 judul buku yang telah terbit, sebagian besar adalah cerita untuk anak. Ada memang beberapa artikel yang dibukukan dalam bentuk antalogi yang lebih umum dan untuk konsumsi dewasa, tapi persentasenya memang teramat minor. Karena itulah aku mulai mencoba melihat ke dalam diriku, mau fokus ke manakah sebenarnya proses kreatif menulisku ...
Senin, 21 Juli 2008
Berdamai dengan Realita
Seiring berjalannya waktu, banyak cerita tentang sepak terjangnya. Sungguh, kadang aku ikut senang mendengarnya meraih segenap kesuksesan.
Namun kabar terakhir yang meluncur darinya sungguh sangat mencengangkan. Dia memutuskan untuk tidak bekerja lagi! Duueeennngggg ...!!
Nggak salah tuuhh ...? Udah nongol satu anak … tanpa status pekerjaan yang jelas? Tapi kemudian aku endapkan lagi ceritanya dengan segala upaya untuk mengerti alasannya. Dan kemudian meluncurlah ceritanya dengan sangat lancar—bahkan menurutku tanpa beban. Sekali lagi aku dibuat tercengang dengan ekspresinya yang seperti bayi---ya … bayi yang tak berdosa.
Sepeninggalnya sang teman ke kampung halaman setelah seminggu berada di Jakarta, aku coba menelaah lagi ceritanya. Aku coba menempatkan diriku sebagai dirinya. Berkali-kali aku berandai-andai mencoba kuat pada keputusan menjadi unemployee dengan tanggungan anak istri. Tapi tetap saja jawabannya adalah: berat! Ya … berat! Ketika ribuan orang mencoba bertahan hidup dengan menjadi apa saja---bahkan kadang dengan menggadaikan harga dirinya--- keputusan untuk menjadi unemployee terasa sangat naïf dan kurang bisa diterima akal, setidaknya akal sehatku sebagai sebagai ayah dari seorang anak dan suami dari seorang istri.
Tapi itulah hidup, ketika seseorang dihadapkan pada sebuah kenyataan untuk memilih, maka dia harus memilih karena menurutku, hidup adalah sebuah pilihan! Mau bagaimana kita hidup, itu adalah hak seseorang yang mungkin menjadi wilayah individuasi seseorang. Maka mencobalah untuk berdamai dengan realita, meski sesungguhnya manusia diciptakan untuk berpikir.
Senin, 07 Juli 2008
Hari ini...
Hihii... baru saja anakku bangun gara-gara ibunya nerima telponku. Jadi ya langsung saja aku matikan hapenya daripada nanti istriku nggak konsen membagi perhatian.
Akhir-akhir ini, sejak rayya sedang dibiasakan tidak minum asi lagi memang rayya jadi agak susuah kalau mau tidur. Selalu saja rewel. Tapi itu terjadi hanya kalau ada ibunya. Soalnya kalau hanya ada aku, rayya juga bisa kok tidur siang di gendonganku.
Tapi aku lihat istriku justru sering kuwalahan kalau menjelang saat-saat rayya harus tidur, baik siang atau malam. Memang sih rayya pasti merajuk dulu minta asi karena tahu ibunyalah yang selama 2 tahun ini selalu memberinya kenyamanan dan keasyikan dengan asinya. Jadi ya agak berat juga perjuangan istriku untuk menghentikan kebiasaan yang sudah berjalan selama 2 tahun lebih.
Kalau rutinitasku di kantor sampai saat ini masih seperti beberapa minggu terakhir. Belum juga ada pekerjaan yang menyita waktu. Aku masih lebih banyak browsing dan membaca-baca artikel dari situs yang aku jelajahi. Kebanyakan sih berita aktual yang sedang terjadi di tanah air. Kadang juga tentang berita-berita gaul yang sedang marak diomongin orang.
Sebenaranya aku juga sedang menulis fable untuk tabungan naskahku. Tapi entah kenapa sudah beberapa kali aku coba belum satu pun cerita yang jadi. Aku nggak tahu kenapa, karena rasanya kalau membaca cerita orang lain atau ceritaku sendiri, sepertinya gampang banget bikinnya. Tapi ternyata ketika akan memulai membuat lagi ternyata berkerut juga nih kening!
Tapi bagaimanapun, aku harus terus mencoba kan? Aku harus tanamkan pada diriku sendiri bahwa aku masih bisa menulis!! Aku harus bisa...!
Minggu, 29 Juni 2008
Spanyol kampiun
Semalam sambil sesekali tidur di sofa, aku agak maksain nonton final euro 2008: spanyol lawan jerman, dan akhirnya spanyol yang berhak mengangkat trofi juara berkat gol tunggal torres di babak 1 menit 33, melalui sontekan kakinya yang berhasil memperdaya lehman.
Aku menontonnya tanpa ruh..., tanpa jiwa.. dan hanya karena aku taruhan aja maka aku mau nonton. Meski aku menang taruhan, tapi itu sama sekali nggak membuat aku senang berlebih, kecuali senang karena aku akan makan sate gratis. Itu aja. Sepele sekali memang.
Tapi tadi malam itu ada sedikit kelucuan. Rayya rewel dan bangun minta asi. Aku nggak ngerti apa sama istriku dikasih apa nggak, tapi yang pasti rayya rewel cukup lama.
”ini karena hawanya panas...” kata istriku.
”Ya udah dduduk aja di sofa ini, lalu pintunya dibuka,” usulku. Sebentar saja rayya langsung pules bahkan ngorok! Hehehe... tapi ketika mau dipindah ke tempat tidur di kamar, rayya kembali nangis dan minta digendong.
Istriku membawa lagi rayya ke ruang tamu tempat aku nonton bola. Istriku berdiri di depan pintu yang terbuka. Angin malam memang terasa dingin seperti membuai mata untuk terpejam. Akhirnya istriku tiduran di sofa sambil tetap menggendong rayya yang sudah kembali tertidur. Sebentar saja istriku sudah pulas. Aku tersenyum melihatnya, lalu aku ambil kasur busa dan aku letakkan di depan sofa untuk menjaga biar rayya nggak jatuh ke lantai. Dan aku meneruskan nonton bola.
Sampai pertandingan final itu berakhir, istri dan anakku tetap tidur di sofa. Aku segera mengunci pintu depan dan mematikan lampu dan tv, lalu aku tidur di kamar. Jadinya agak lucu juga, aku tidur di kamar, sementara istri dan anakku justru tidur di sofa di ruang tamu, dan itu sampai sekitar jam lima subuh sebelum istriku pindah ke kamar. Hehehe....
.jpg)