Rabu, 04 Juni 2008

Ayya nggak mau Ayya ...

4jun2008

Hari ini rayya agak ngambek. Entah kenapa, pas dimandiin ibunya dia nangis. Saat aku berangkat kerja pun, dia gak seperti biasanya meski tetap mencium tanganku. Padahal pas bangun tidur tadi, rayya sempat ngobrol sama aku. Yang pasti pagi ini rayya lebih dekat sama ibunya.
Itu cerita pagi ini. Keadaan yang sebaliknya terjadi semalam. Rayya begitu antusias bermain dan bercanda denganku. Aku ingat betapa manjanya dia saat minta aku menggendongnya, lalu cium pipi kiri kanan, jidat, dan bibir sambil memonyongkan mulutnya yang kecil mungil. Gemeesss …banget!
Bahagianya punya anak. Dan benar kata orang-orang yang sudah lebih dulu punya momongan bahwa anak itu penghilang kepenatan setelah seharian kita bekerja. Sekarang ini aku sedang mengalami, sekaligus menikmatinya. Puji syukur tak henti-hentinya aku panjatkan pada Allah atas karunia yang begitu menyejukkan ini.
Hampir setiap pulang kerja, yang ada di pikiran adalah ketemu rayya dan bercanda dengannya. Ketika itulah rasa capek yang mendera ketika kerja atau selama dalam perjalanan yang selalu macet terasa menguap dan digantikan perasaan bahagia saat bertemu rayya. Bocah mungil itu memang sumber inspirasi yang membuatku bersemangat menjalani rutinitas hari-hariku. Rayya pula yang menginspirasiku untuk mulai menulis apa pun tentang dirinya sejak tiga hari yang lau. Terlambat memang, kenapa nggak dari dulu aku menuangkan cerita tentangnya, tapi tidak ada yang patut disesali karena kini aku mulai menuliskan segala kebersamaan bersama rayya dan tentu juga istriku.
Tapi aku sendiri kadang berpikir, kenapa aku kurang suka bercerita tentang rayya pada orang lain. Sementara banyak temanku yang dengan antusias bercerita tentang anaknya, tentu saja dengan bumbu-bumbu penyedapnya kepada orang lain. Dan aku pun menghargai itu sebagai hak mereka. Aku justru lebih memilih untuk tidak terlalu banyak bercerita pada orang lain tentang rayya. Bagiku, cerita tentang rayya sangat subjektif dan sangat personal dan hanya aku dan istriku serta keluarga dekatkulah yang bisa menikmati segala kelucuan dan keunikan rayya. Kadang pula aku berpikir, aku sendiri kadang bosan dan hanya menanggapi dengan komentar sepantasnya saja bila ada teman yang bercerita tentang anaknya-agar mereka tidak menjadi tersinggung karenanya.
Sejatinya aku memang punya keinginan untuk membuat semcam biografi kecil buat rayya, sebagai tanda cintaku padanya. Kelak, mungkin segala cerita yang aku tuangkan ini akan berguna, setidaknya sebagai bacaan buat rayya agar dia tahu, betapa cintanya aku dan istriku kepadanya. Semoga.

Tidak ada komentar: