2juni2008
Pagi ini aku bangun lumayan lebih pagi dari biasanya. Jam 5.30. Nin-istriku- membuka jendela kamar dan angin pagi yang dingin dan segar menyeruak kamar menggantikan udara kipas angin yang berputar semalaman. Setelah salat subuh, aku kembali tiduran. Malas-malasan. Anakku tadi juga sudah bangun sebenarnya-pakai acara nangis tentunya-. ”Mehh u..lluuu...! Meh ulluuu...,” seperti biasa rayya merajuk. Oh iya ... ”Meh” adalah istilah rayya kalau minta asi. Sepertinya rayya sudah tahu kalau hari ini ibunya masuk kerja. Jadi dia manfaatkan betul keberadaan ibunya pagi ini semaksimalnya sebelum ditinggal kerja.
Karena itu, aku tawarkan untuk masak nasi-yang langsung diiyakan istriku yang masih memberi asi.
Seperti biasanya, rayya tidur lagi setelah diberi ”meh”. Istriku berjingkat bangun dari tempat tidur. Mandi, lalu memasak sayur dan goreng ayam buat makan rayya selama ditinggal.
Istriku sudah siap dengan kerudung dan pakaian kerja ketika rayya bangun. Melihat ibunya sudah akan ”meninggalkannya”, rayya mengeluarkan jurus terampuhnya: ”Eetong ... etongg ...!” teriaknya sambil nangis keras-keras. ”Etong” itu artinya gendong. Dalam sekejap, rayya sudah berada di gendongan istriku. Aku mandi karena sekarang aku pun juga harus berangkat lebih pagi ke kantor. Selesai mandi dan berpakaian, aku coba menggendong rayya, padahal aku tahu persis rayya gak bakal mau.
Dengan segala bujuk rayu, akhirnya rayya mau kugendong. Tapi syaratnya, aku harus nemenin rayya bonceng istriku sampai di jalan besar. Aku pegangin rayya sambil mengajaknya bercanda. Mulanya rayya masih diam. Jutek gitu. Tapi lama-lama, rayya mulai mau sedikit senyum sambil ngedip-ngedipin mata. Genit, tapi lucu dan nggemesin. Rayya memang paling seneng kalau naik motom ( = motor).
Sampai di pinggir jalan, aku turun. Aku sempat mengira rayya akan nangis lagi. Tapi ternyata rayya hanya ngliatin wajah manyun mau nangis, tapi nggak jadi. Bahkan rayya mau salam sama ibunya dan tersenyum. Lega ..., aku menggendongnya pulang sambil terus mengajaknya bicara dan membuatnya tersenyum.
Persoalan pertama selesai, selanjutnya adalah tantangan kedua, yaitu membebaskan diriku sendiri dari glendotan rayya.
Di rumah, si mbak mencoba mengambil alih rayya, tapi rayya belum mau. Dia maunya sama aku terus-mungkin dia ngerasa udah gak sama ibu, masak sih sama ayah juga gak boleh-, hehe..kasian juga sih sebenernya.
Tapi aku kan juga harus masuk kerja. Makanya jalan tengahnya, aku yang akan mandiin rayya biar dia seneng. Ternyata memang rayya seneng banget waktu aku mandiin sambil mainan ikan. Sikat gigi juga gak perlu mainan dulu. Selama mandi, pelan-pelan aku kasih pengertian pada rayya kalau aku juga harus kerja. Untungnya meski nangis sebentar, rayya mau diajak si mbak. Bahkan rayya juga mau aku ajak salam dan gak menolak sewaktu aku cium. Ohh..i love you so much baby.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar