23juni08
Cerita itu berakhir dengan kesedihan.... akhirnya kita semua harus berucap selamat pada italia, semoga selamat sampai di rumah masing-masing dan meneruskan lakon euro 2008 di depan tv sambil makan cemilan khas nonton bola.
Pada sabtu sampai senin pagi ini memang aku sedang diberi ujian kekecewaan: pertama malam minggu kemarin aku terpaksa nggak badminton karena nggak ada yang main. Huuhhh.... padahal aku sudah 2 minggu nggak main dan sebenarnya pingin sekali main. Trus kedua adalah batuk yang menyerangku saat ini terasa mengganggu sekali.
Yang aku pikirkan malah rayya. Soalnya aku takut dia jadi tertular...makanya aku paksain tetap masuk kerja meskipun aku sudah punya surat izin dokter untuk nggak masuk kerja. Soalnya kalau aku di rumah, rayya pasti bersama aku terus, dan itu sangat riskan karena bisa saja aku secara langsung atau tidak sudah menularkan penyakit batukku padanya. Semoga ini nggak kejadian deh...
Trus yang ketiga ya itu tadi ...kekalahan italia lewat adu penalti saat melawan spanyo di perempat final euro 2008. meskipun aku juga menjagokan spanyol, tapi kekalahan italia ini tetap saja meninggalkan rasa sesak. Tak bisa aku pungkiri kalau dalam hati kecilku, aku merasa ada ikatan emosi tertentu -meski aku nggak ngerti itu apa- untuk selalu ”pegang” italia. Tapi ya udahlah... mau gimana lagi. Kalah ya kalah! Titik! Nggak perlu ada alasan atau apologi apa pun karena memang nggak ada gunanya kan. Hidupku harus terus berjalan meski italia nggak maju ke semifinal euro 08 kan?
Hari ini pembantu kami berulah lagi. Sesuai perjanjian awal, kalau hari senin, dia harus datang lebih pagi karena istriku harus berangkat ke kantor pagi-pagi. Apalagi hari ini istriku sudah ngeplot jaga ujian, trus entri nilai, dan bimbingan mahasiswa. Yang pasti, pagi tadi sebelum aku tinggal kerja, istriku sempat terlihat kesal. Tapi hebatnya, dia tetap mengantarku dengan senyumnya -yang aku tahu itu ikhlas- sambil menggendong rayya yang masih ”bau jigong” karena baru bangun bobok dan blom mau mandi.
Sampai jam 12 siang ini, aku nggak tahu apakah istriku jadi pergi ke kampus atau nggak. Soalnya sms-ku belum dijawab. Tapi aku yakin, apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik. Allah pasti sudah mengaturnya. Bahkan tak ada sehelai daun kering pun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah. Subhanallah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar