23mei2006
Bayi mungil itu lahir...
Tanggal 23 mei 2006 adalah hari terindah dalam hidup kami, aku dan istriku--yang biasa kupanggil nin-- karena di siang hari sekitar jam 10-11, terlahir dengan selamat seorang putri mungil. Aku saksikan dengan mata dan kepalaku sendiri, bagaimana perjuangan nin melahirkan anakku--anak pertamaku. Aku kagum, bangga, dan terharu mendampinginya melahirkan buah cinta kami. Dan itu membuatku secara otomatis--tanpa paksaan dari siapa pun-- semakin mencintainya. Aku hanya bisa mencium lembut kening istriku saat bayi merah itu menangis saat pertama kali menghirup udara dunia.
Kini, istriku sudah menjadi ibu buat anakku, dan aku sudah jadi ayah. Status baru yang dengan segenap doa dan pujian, aku sandang setelah menunggu hingga usiaku merambat 35 tahun. Alhamdulillah. Puji dan syukur tak henti aku munajatkan pada Yang Teragung, Allah swt. Tentu kabar sukacita itu segera kukabarkan pada orang-orang yang mengasihi kami.
Dan pada 23 mei 2008 yang lalu, rayya berulang tahun yang ke-2. Istriku berinisiatif untuk mengadakan pengajian ibu-ibu di rumah. Kami pun berembug untuk membahas rencana itu. Mulanya terpikir untuk pesan katering seperti yang pernah kami lakukan ketika acara syukuran pindah rumah. Tapi setelah istriku menghitung-hitung biaya yang perlu dikeluarkan, akhirnya kami sepakat untuk membuat sendiri hidangan untuk pengajian itu daripada harus memesan katering. Dan nyatanya memang kami bisa lebih menghemat pengeluaran.
Untuk urusan yang satu ini, memang istriku agak ketat. Dia rela sedikit mengeluarkan tenaga ekstra untuk memasak dan menyiapkan segala sesuatunya. Alhamdulillah, pengajian itu berjalan lancar. Di hari ultah itu, rayya aku belikan crayon dan buku mewarnai. Meskipun belum bisa menggambar, tapi rayya terlihat senang. Rayya mengajak aku atau ibunya mewarnai, dan dia ikut-ikutan. Tapi namanya juga bocah, rayya nggak lama mainan crayon. Kira-kira 3-4 hari rayya sudah bosan tuh.
Tapi ada kesenangan rayya yang dari dulu sampai sekarang nggak berubah, yaitu dia seneng banget lihat vcd lagu anak-anak, teletubies, sama dora. Lucu deh kalau lihat rayya nyanyi sambil nari-nari. Genit banget. Kedua tangannya diayun-ayunkan ke atas-bawah sambil manggut-manggut.
Kini di usia dua tahun, rayya makin pintar ngomong. Aku dan istriku kadang heran dengan perbendaharaan katanya. Seringkali aku dan istriku bengong mendengar celotehnya karena kami merasa tidak mengajari kata-kata tertentu yang ternyata fasih diucapkannya.
Jika melihat kelucuannya yang menggemaskan itu, aku dan istriku merasa sangat bersyukur. Bahwa nikmat kesehatan memang tak bisa dihargai dengan apa pun. Aku teringat ketika dulu, aku bahkan tak ingat lagi tanggal pastinya, ketika rayya harus tergolek lemah di rumah sakit selama satu minggu. Rayya sakit tipus. Rasa cemas, takut, dan bingung menyelimuti perasaan aku dan istriku.
Saat itu hanya doa dan harapan atas kesembuhan rayya yang kami panjatkan. Apalagi saat harus menyaksikan anak tercinta kami diinfus dan disuntik. Ya Allah..., kami sungguh tak tega melihatnya. Tapi kemudian sedikit demi sedikit kekuatan mental mulai kumiliki melihat ketegaran istriku menghadapi cobaan itu. ”Aku harus kuat,” batinku. Akhirnya, aku menjadi merasa semakin dekat dengan Sang Pencipta. Di musala rumah sakit, aku aku baca surat Al Mulk berulangkali. Tak terasa, aku selalu menitikkan air mata. Aku menangis..., ya aku menangis!
Dan subhanallah, aku mulai merasa sedikit lebih tenang, apalagi setelah mendapat dukungan moral dari kakak-kakaku dan saudaraku. Terima kasih untuk semuanya karena berkat doa dan dukungan semua orang yang bersimpati kepada rayya, aku dan istriku menjadi semakin kuat.
Alhamdulillah, setelah satu minggu aku dan istriku makan dan tidur di rumah sakit demi menjaga dan menunggui Rayya, akhirnya Rayya dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Pelajaran paling berharga dari cobban itu adalah bahwa kami menjadi semakin menyadari begitu bernilainya nikmat kesehatan yang dikaruniakan Allah atas umat-Nya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar